Thursday, 5 November 2009

BE, DO, HAVE; PRINSIP KE 4

Inilah Prinsip ke 4 Menjadi Milyarder, yang telah terbukti
sukses & digunakan oleh Orang-orang kaya didunia: Be, Do, Have




Be=> Menjadi


Do=> Melakukan


Have=> Mempunyai



Banyak sekali orang yang langsung ingin kaya,
ingin langsung Have, langsung mempunyai.



Percaya tidak, kalau seseorang tidak Menjadi(Be) dulu dan
Melakukan(Do) dahulu untuk menjadi Kaya (Have),
dan tiba-tiba langsung kaya, maka dia akan tetap miskin.



Kalau dia secara mental, mindset, tingkah lakunya, habitnya,
atau do nya adalah orang miskin walaupun sekarang kaya,
maka dia akan tetap miskin juga.



Contoh:
Mike Tyson, seumur hidupnya dia membuat uang sekitar
300 Juta USD, tepatnya 312 Juta USD atau 3000 milyar rupiah.
Ternyata baru umur 40 tahun, Mike Tyson sudah menyatakan
bangkrut dan masih utang 35 Juta US atau 350 Milyar Rupiah.



Dia bisa Have, tapi kalau Do-nya atau action-nya atau
habitnya masih habitnya orang miskin, dan Be-nya,
dalam arti mindsetnya/ pola pikirnya:
dia tidak menjadi orang kaya dulu dan kebiasaannya adalah
masih kebiasaan orang miskin, maka dia akan jadi miskin.



Orang-orang yang kaya dan mencerahkan, dia tau persis bahwa
dia perlu menjadi kaya dulu dalam pikiran dia,
didalam sikapnya sehari-hari, dalam tindakannya sehari2,
baru dia benar2 memiliki kekayaan tadi.



Sikap2 apa yang membuat kita menjadi kaya dan
Tindakan2 apa yang membuat kita jadi kaya?



Kita harus terus belajar. Banyak sekali. Contoh Be untuk
menjadi kaya adalah upaya kita terus membuat Nilai Tambah tadi,
dan kemudian habitnya habit orang kaya, dia selalu melakukan
investasi2 ditempat yang tepat, bukannya konsumsi terus menerus
ditempat yang salah.



Contoh Do juga dengan mempunyai prinsip menunda kesenangan
dan akhirnya nanti senang sekali, dan dia melakukan
aset alokasi dan investasinya digulung terus dan
ditambahkan lagi.



Dengan Do spt itu, berapapun income Anda sekarang,
kalau Anda terus menyisihkan dalam sekian tahun kemudian,
Anda akan pasti jadi kaya. Tapi berapapun income Anda hari ini,
ketika Anda konsumsi lebih dari yang Anda dapatkan, dan
terus menerus melakukannya, pasti akhirnya Anda akan miskin.



Sekali lagi, Be: Jadilah, mempunyai sikap & watak,
cara berpikir orang-orang yg kaya kemudian lakukan tindakan2
dan lakukan juga kebiasaan2 orang menjadi kaya,
baru kita bisa memiliki kekayaan tadi dengan aman &
terus berkembang.



Demikianlah: Prinsip Be -> Do -> Have
menjadi Prinsip yang ke 4 untuk menjadi Milyarder yang mencerahkan.



Sumber: Tung Desem Waringin


Sebelumnya

Read More..

PELUANG ADA DIMANA-MANA; PRINSIP KE 3

Apapun yg kita lihat sebetulnya sudah menghasilkan uang bagi
seseorang yang lain ataupun bisa menghasilkan bagi orang lain
ataupun bagi kita.



Contohnya: Apa yang kita lihat sekarang?
Kalau misalkan kita lihat ada wallpaper, sudah pasti ada
orang yang mendapatkan uang karena wallpaper ini.



Kemudian kita melihat lantai, lantai juga menghasilkan uang
untuk orang yang membuat lantai dan memasang lantainya.
Kita lihat rambutnya, rambut juga sama. Rambut menghasilkan
uang untuk orang yang jualan shampo, untuk salonnya.



Nah, kita harus selalu sadar bahwa apapun yang kita lihat
bisa menghasilkan uang:
Peluang ada dimana2.



Begitu banyaknya orang, begitu bangun sampai tidur selalu
berkata: "ah, saya tidak menemukan peluang" atau
"dalam hidup ini tidak ada peluang".



Sebetulnya hal itu salah, karena yang benar adalah
Peluang ada dimana-mana.



Jadi pertanyaan saya, dalam prinsip yang ke 3 ini,
Apa peluang yang Anda lihat hari ini?
Test, buka mata Anda, buka pikiran.
Peluang tidak dilihat dengan mata, tapi Peluang dilihat
dengan pikiran kita.



Pikirkan, bahwa benar tidak, apapun yang kita lihat,
sebetulnya itu adalah peluang untuk membuat uang.



Demikian Prinsip Dasar ke 3 untuk Menjadi Milyarder
Yang Mencerahkan: Peluang ada dimana-mana.



Sumber: Tung Desem Waringin


Sebelumnya


berikutnya


Read More..

Wednesday, 7 October 2009

Menggunakan Faktor Kali; Prinsip ke 2 Dari 24 Prinsip Miliarder

Prinsip 2 Milyarder yang mencerahkan adalah:
menggunakan faktor kali.





Yang dimaksud faktor kali adalah sesuatu hal yang sekali
kita sentuh akan berefek multiplier.



Entah itu yayasan, entah itu orang, entah itu perusahaan,
entah itu negara, entah itu teknologi, entah itu mass media
yang sekali kita sentuh, akan membuat nilai tambah kita
mendadak membuat efek Multiplier kepada banyak orang
sekaligus seketika.



Contoh orang yang kaya, Ia mempunyai nilai tambah dan
Ia menggunakan faktor kali. Orang biasa mempunyai nilai tambah,
tapi ia lupa faktor kali.



Contohnya ad a orang yang mempunyai bengkel,
Ia membuat bengkelnya sedemikian bagusnya:
servisnya bagus, cepat, bersih, dan murah.
Itu adalah nilai tambah yang luar biasa,
akibatnya bengkelnya ramai.



Tapi ia lupa faktor kali, ketika begitu banyak pelanggan
datang, ia tidak bisa tangani dengan baik karena
ia mempunyai kapasitas tertentu.



Bisakah ia kaya? Ya, La bisa kaya. Kaya sekali? Tidak.



Orang-orang yang kaya sekali menggunakan nilai tambah dan
faktor kali.



Misalnya bengkel tadi, ia menggunakan karyawan tambahan,
ia memperluas bengkelnya, ia menggunakan teknologi sehingga
ia bisa melayani dengan sangat-¬sangat lebih cepat dan
lebih baik lagi, kemudian ia juga membuka cabang,
kemudian ia menjual franchise, itu adalah faktor kali.



Dan faktor kali berikutnya ketika franchise-nya jaya dan
omzetnya begitu besarnya, kemudian ia Go Public,
sehingga banyak orang mendapatkan keuntungan / nilai tambah
dan saham perusahaannya.



Itulah faktor kali akibatnya ia menjadi sangat kaya,


lebih kaya dibandingkan dengan satu orang yang mempunyai
bengkel satu.



Namun harus hati-hati, orang yang celaka di dalam hidup,
mereka tidak mempunyai nilai tambah dan mereka tidak mempunyai
faktor kali. Misalnya mereka bekerja sehari-hari dan
terus bekerja dengan biasa saja, yang fungsi mereka bisa
digantikan dengan orang lain, otomatis Ia tidak mempunyai
nilai tambah, karena bisa digantikan oleh orang lain.



Kalau ia tidak bisa digantikan oleh orang lain dalam
pekerjaannya, otomatis sebetulnya ia sudah mempunyai nilai
tambah yang lebih dibanding orang lain.



Ketika ia bisa digantikan dengan mudah oleh siapapun dalam
pekerjaannya, misalnya seperti orang bukakan pintu dan
dia hanya bukakan pintu saja, pekerjaan ini bisa digantikan
oleh siapapun yang masih hidup dan normal.



Jadi ia tidak mempunyai nilai tambah, dan kemudian ia tidak
punya faktor kali, karena ia hanya melayani satu orang,
atau satu perusahaan saja, akibatnya ia hidupnya akan
biasa-biasa saja.



Lalu, orang yang pembawa bencana adalah orang yang lupa
nilai tambah dan ia sibuk mengkalikan.
Seperti orang yang membeli satu perusahaan dan kemudian
ia merekayasa keuangan perusahaan itu, kemudian
sahamnya digoreng naik dan dijual kepada banyak orang,
seolah-olah orang lain mempunyai nilai tambah dan
mendapatkan nilai tambah dan perusahaan tadi.



Tetapi ternyata dalam beberapa saat perusahaannya jadi hancur,
bahkan jadi kosong/ nol karena ia jual lagi sahamnya dan
Ia dapat uang yang banyak. Betul ia bisa kaya dengan
cara seperti itu, tapi orang ini adalah pembawa bencana,
dan ia bukan Milyarder yang mencerahkan.



Sekali lagi saya tekankan di sini, Orang-orang yang sangat
kaya mempunyai Nilai Tambah, dan ia Kalikan sedemikian
sehingga orang banyak bisa merasakan Nilai Tambah tersebut.



Demikian Prinsip 2 Milyarder Yang Mencerahkan: Menggunakan
Faktor Kali. Jadilah Milyarder Yang Mencerahkan!



Sumber: Tung Desem Waringin



Artikel terkait sebelumnya


artikel berikutnya


Read More..

Monday, 5 October 2009

ORANG KAYA YANG MENCERAHKAN SELALU MEMPUNYAI NILAI TAMBAH (PRINSIP KE 1 DARI 24 PRINSIP MILIARDER)

Artikel bersambung ini akan membahas dua puluh empat prinsip miliarder yang semoga dapat bermanfaat dalam kita menggapai kesuksesan yang kita harapkan. Sering kali kita bermimpi, bercita-cita, berhayal ataupun berupaya sekuat tenaga untuk menjadi seperti yang kita inginkan. Tapi apakah itu impian kita tersebut akan dapat terwujud? Bagaimana cara mencapainya? dan akankah mimpi kita tersebut bermanfaat bagi lebih banyak orang di luar diri kita? Artikel bersambung ini akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar di atas.



Seperti seekor lebah pada waktu dia mencari madu,
tanpa disadari ketika ia sampai di bunga, & kemudian bunga
tadi diambil madunya, lebah tadi menyebarkan serbuk sari
dari bunga2 tadi, yang membuat bunga2 tadi menjadi buah.



Demikian juga orang yang kaya yang mencerahkan,
tujuan utamanya persis seperti lebah yaitu
mencari sari madunya. Efek sampingnya ternyata ia membuat
kebun buah yang begitu indahnya.



Orang yang kaya juga mau mencari kekayaan, tujuannya adalah
mencari uang.



Dalam waktu mencari uang, ternyata ia mencerahkan dan
membuat dunia ini menjadi lebih baik,
membuat orang lain menjadi bersemangat,
membuat orang lain jadi lebih kaya,
membuat orang lain hidupnya jadi lebih indah,
lebih sehat, lebih bahagia.




Prinsip 1: Orang kaya yang mencerahkan selalu mempunyai Nilai Tambah.


Apa maksudnya Nilai Tambah? Maksudnya begini:
ketika anda hidup, hidup adalah nilai tambah.
ketika semua orang hidup, hidup adalah nilai standard.
Demikian juga ketika kita jujur, jujur adalah nilai tambah.
Tetapi ketika semua orang jujur, jujur adalah nilai standard.



Dalam hidup kita harus mempunyai nilai tambah dibanding
orang lain. Kita harus membuat nilai tambah dari sesuatu hal
yang tidak ada menjadi ada.



Jaman dahulu pada saat nabi abraham/ ibrahim, pada waktu ia
membuat nilai tambah sedemikian sehingga satu gandum menjadi
2 gandum, 2 domba menjadi puluhan bahkan ratusan domba,
demikianlah ia membuat dari tidak ada menjadi ada.



Nah, orang-orang yang kaya tahu bahwa ia mempunyai
nilai tambah dalam hidup ini:
ia membuat service yang bagus dalam bengkelnya, membuat harganya lebih murah sedemikian sehingga orang mendapatkan keuntungan saat
datang ketempat dia, atau rumah makan dengan rasa yang enak,
bergizi, dan sehat.



Apapun didalam hidup ini, kita harus membuat nilai tambah.
Dan ketika ada nilai tambah, kita akan jadi kaya.
Seperti definisi uang itu sendiri,
uang adalah alat tukar nilai tambah.



Ketika kita mau dapatkan uang yang banyak, kita harus selalu
tanya: "Apa Nilai Tambah Kita?"




Ketika kita berhasil membuat nilai tambah yang lebih banyak
dari orang lain, maka uang akan mengejar kita.



Contoh, seperti saya pribadi Tung Desem Waringin meluncurkan
buku saya Financial Revolution, saya buat nilai tambah.
Ketika saya percaya dalam hidup ini adalah membuat nilai tambah
dan uang adalah alat tukar nilai tambah,
saya membuat buku Financial Revolution saya mempunyai
nilai tambah:
selain materinya bagus, juga ada 2 cd audio tambahan yang
tidak ada di buku yang lain di seluruh dunia.



2 cd audio, satu adalah CD Financial Revolution, dan
yang kedua adalah CD Sales Magic, Bagaimana Menjual
Sepotong Roti Tawar dg Harga 300 Juta, dan Orang Masih Berebut.



CD audionya bisa saya jual, tapi tidak saya lakukan.
Saya tambahkan secara gratis dalam bukunya,
dan itu membuat buku saya Best Seller rekor MURI
(Museum Rekor Indonesia) karena saya fokus pada satu hal.



Ketika saya membuat nilai tambah tanpa merugikan saya,
dengan setulus hati saya berikan 2 cd audio tadi,
mendadak buku saya laku 10.511 buku hanya di hari pertama
secara Eceran.



Kembali lagi, apabila kita ingin kaya, selalu tanya:
'Apa Nilai Tambah Saya?'.



Demikian Prinsip 1 Milyarder Yang mencerahkan,
dan Jadilah Milyarder Yang mencerahkan!



Bersambung



Sumber: Tung Desem Waringin



Artikel terkait berikutnya
Read More..

Saturday, 3 October 2009

Program Signer.exe

Berikut saya bagikan sebuah tips yang mungkin berguna berkaitan dengan signer application yang biasa dipakai pada proses instalasi aplikasi simbian OS pada smart phone.
Perlu saya jelaskan dahulu bahwa program Signer.exe adalah untuk sign atau unsign .sis file yang biasanya diperlukan sebelum kita menginstal aplikasi pada handphone dengan sistem operasi simbian. Langsung saja, tanpa berbasa-basi, berikut adalah prosedur operasi dari signer.exe application tersebut


 
  1. Letakkanlah Certificate file dan Key file di dalam folder folder yang sama dengan Signer.exe.

  2. Letakkan juga file yang akan di-sign atau unsign di dalam folder tersebut.

  3. jalankan program signer.exe.

  4. Browse untuk select sis file, certificate file dan key file.

  5. Isi password dengan nomor imei.

  6. Tekan tombol Sign atau Unsign.


Catatan:
Unsign diperlukan untuk file yang sudah signed tetapi tidak compatible dengan file yang sudah signed dengan program ini.
Sesudah unsigned, file itu harus di-sign kembali.  



Pada poin satu langkah di atas, kita membutuhkan sertifikat file dan key file yang belum kita punyai. Pertanyaannya kemudian bagaimana kita bisa mendapatkannya? Untuk memperoleh file-file tersebut, ikuti langkah berikut.


  1. Masuk ke: sini

  2. Register lalu Login

  3. Klik Apply Cer, maka anda diminta login lagi.

  4. Klik Apply for Cer.

  5. Isi Form. Ketika diminta phone number, tuliskan angka 15 plus sembilan angka sembarang.

  6. 24 jam kemudian, login lagi dan masuk ke My Certificate. Your Cer and Key files are there!


Semoga bermanfaat!!!



Sumber: Didi Tarsidi's Blog

Read More..

Saturday, 19 July 2008

UIN Jakarta, Diskriminasi Terjadi Lagi

Dalam catatan kecil ini saya mencoba mengabadikan sebuah kejadian yang bagi saya kembali mencoreng-moreng makna pendidikan dan tugas mulia para praktisi dan institusi pendidikan di negara kita tercinta "Indonesia".
 
Wijaya adalah seorang tunanetra yang telah lulus dalam tes penerimaan mahasiswa baru di UIN Jakarta pada jurusan bahasa Indonesia, fakultas Tarbiah. Atas kelulusan tersebut, dia segera mendaftarkan diri pada program dimana dia diterima. Tetapi apa yang terjadi? Bukan sebuah penerimaan tetapi justru sebuah penolakan yang didasarkan pada persyaratan bahwa calon mahasiswa tak boleh memiliki kecacatan yang dapat mengganggu proses belajar.
 
Mensikapi penolakan ini, Yayasan Mitranetra, sebuah lembaga yang selama iini konsisten terhadap adfokasi pendidikan bagi tunanetra dan melakukan pendampingan dan fasilitasi pendidikan terhadap tunanetra melakukan publikasi dan mengecam keras terhadap penolakan ini Berikut adalah siaran pers Yayasan MitraNetra:
 
Quote
Siaran Pers.
 
Diskriminasi Di Dunia Pendidikan.
 
Pelanggaran hak asasi manusia mewarnai penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2008 ini. Wijaya, seorang tunanetra alumni SMA Negeri 66 Jakarta Selatan,
setelah lolos seleksi Ujian Masuk Bersama (UMB) Fakultas Tarbiyah jurusan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Islam (UIN) Syarif Hidayatullah, saat daftar
ulang ditolak oleh pihak universitas, karena dia tunanetra. Uang yang telah dibayarkan sebesar Rp 1,850,000 dikembalikan kepada yang bersangkutan, sementara
semua berkas pendaftaran ulang yang telah diserahkan hingga kini tetap ada pada pihak perguruan tinggi.
 
Sudah sejak tahun 80an, atau bahkan mungkin sebelumnya, universitas yang dahulu bernama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) ini membuka diri pada hadirnya
tunanetra untuk belajar di sana di berbagai jurusan yang ada, termasuk Fakultas Tarbiyah. Dan, dari kampus yang berlokasi di kawasan Ciputat ini, telah
lahir sejumlah sarjana tunanetra yang saat ini telah berkiprah di masyarakat pada bidang mereka masing-masing. Bahkan, tahun lalu, seorang tunanetra dari
Fakultas Dakwah lulus dengan predikat terbaik.
 
Tapi entah mengapa, tiba-tiba perguruan tinggi yang semula ramah pada tunanetra itu mengubah pendiriannya. Wijaya, siswa tunanetra yang sejak di awal masa
studinya senantiasa mendapatkan layanan dampingan dari Yayasan Mitra Netra, setelah lolos ujian masuk bersama yang diselenggarakan pada pertengahan bulan
Juni lalu, ditolak dengan alas an karena dia tunanetra. Bersama Wijaya, Arif, yang juga satu SMA dengannya, saat ini sedang mempersiapkan diri belajar
di FISIP Universitas Indonesia, jurusan kesejahteraan social. Dari catatan Mitra Netra, terdapat empat tunanetra lain yang saat ini sedang menempuh studi
di UIN, salah satu di antaranya Rafiq, juga belajar di Fakultas Tarbiyah jurusan Pendidikan Agama Islam.
 
UIN, sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi yang juga berfungsi sebagai "agen perubahan", telah menodai dirinya sendiri dengan perlakuan diskriminasi
kepada satu anak bangsa yang dengan sungguh-sungguh ingin mengembangkan dirinya. Apakah kekerasan dalam pendidikan semacam ini akan terus dibiarkan?
 
Jakarta, 17 Juli 2008
 
Aria Indrawati
 
Kabag Humas
 
Yayasan Mitra Netra
 
Cel. 0815-11-478-478
 
End of quote
 
Senada dengan siaran pers ini, dukungan dari kawan-kawan penyandang cacat/difabel juga mengalir melalui berbagai tulisan di media, termasuk surat elektronik yang ditujukan kepada rektor UIN Jakarta.
 
Di beberapa milis, dukungan ini pun terus mengalir seperti yang saya kutip di bawah ini:
 
Dear rekan FPK dan semua,
 
Saya sangat mendukung langkah advokasi yg dilakukan teman2 terkait dengan diskriminasi di institusi pendidikan yang masih saja terjadi di negeri kita tercinta.
 
Belum lama ini UPI melalui website resminya mencantumkan persyaratan tidak mempunyai kecacatan untuk dapat diterima sebagai calon mahasiswa. Disusul dengan
unifersitas negeri Yogyakarta yang melakukan hal serupa, sehingga memaksa difabel untuk turun ke halaman rektorat UNY untuk menyuarakan haknya. Terakhir
UIN jakarta juga melakukan hal yang bahkan lebih buruk, bukan sekedar membuat peraturan yang diskriminatif tetapi jelas telah melakukan penolakan. Beginikah
mental praktisi pendidikan bangsa kita? Pendidikan yang seharusnya menjadi tempat peningkatan martabat kemanusiaan justru telah menunjukkan wajah2 yang
tak dapat memanusiakan manusia!
 
Terkait dengan pernyataan rektor uin jakarta yg saya kutip dari e-mail mas Agus Hamenangan di bawah ini:
 
"Saya pegang prinsip pendidikan inklusif, siapa aja berhak
masuk. Tapi kalau fasilitas dan SDM untuk profesi tertentu belum siap,
bukankah hanya akan merugikan mahasiswa?"
 
Sekilas memang pernyataan tersebut seolah-olah benar bahwa penerimaan yang tanpa memperhatikan sarana/prasarana belajar yg aksesibel akan menghambat akses
belajar
mahasiswa yg pada gilirannya juga akan merugikan mahasiswa. Tetapi kalau dilihat dari sudut pandang yang lain (kenyataan yang sering berbicara) adalah
bahwa pernyataan inilah yang selalu menjadi dasar pelanggengan berbagai bentuk penolakan. Alih-alih memegang prinsip pendidikan inklusi, bagi saya justru
inilah senjata untuk mengembalikan kita pada penjara segregasi. Saya yakin bapak rektor UIN jakarta lebih paham ttg pendidikan inklusi dari pada saya,
terutama ttg how it is designed dan what the principle are! Benar bahwa inklusi memang bukan sekedar menerima, tetapi juga mengakomodasi setiap kebutuhan
khusus sebagai konsekwensinya. Tetapi lihat saja, apakah peraturan yang ada di UIN jakarta itu juga sudah mencerminkan adanya inklusi sebagai mainstreme?
Dan apakah kebijakan pengembangan UIN yang bapak buat dan terapkan sejauh ini juga benar2 mengarah pada implementasi pendidikan inklusi? Saya kira hanya
orang2 yang benar2 faham ttg pendidikan inklusi yang dapat menilainya.
 
Salam anti diskriminasi
 
M Joni Yulianto
Ditulis oleh Joni di milis mitra jaringan, forum pembaca kompas, difabel indonesia dan komnasham.
 
 
 
block quote
 
Salam untuk semua,
 
Menyikapi kasus diskriminasi dan penolakan penyandang cacat dengan alasan sehat/mampu/cakap jasmani dan rohani atau apapun bentuk penghalusan kata yang
merujuk pada hal tersebut, satu hal yang harus kita lakukan : bertindak. 
 
Dalam jangka pendek, tindakan yang bisa dilakukan adalah advokasi per kasus, seperti yang dilakukan oleh MitraNetra dalam kasus Sdr. Wi jaya. Selain mengirim
surat kepada rektor, akan lebih ter'pressure" kalau siaran pers disampaikan juga ke media cetak maupun elektronik. Selain itu, kasus ini bisa dilaporkan
kepada Komnas HAM, Komisi Ombudsman, Menteri Pendidikan Nasional atau LBH Jakarta.  Jika memungkinkan, kasus ini bisa diajukan ke Pengadilan Tata Usa ha
Negara.   
 
Dalam jangka panjang, upaya penghapusan kriteria ini merlukan agenda keberlanjutan dan kebersamaan kita yang terus menerus mengingat kriteria sehat tersebut
dilegalkan. Artinya, ada sekitar lebih dari 13 Undang-Undang (belum termasuk peraturan pemerintah dan peraturan di bawahnya) yang mencantumkan kriteria
ini dalam salah satu pasalnya.  
 
Ada beberapa persoalan terkait dengan penghapusan kriteria :
1.  Secara hierarki, pembatalan/penghapusan kriteria sehat jasmani dan rohani dalam UU harus melalui yudicial review. Persoalannya, judicial review biasanya
dilakukan hanya atas satu peraturan/UU, apakah ada di salah satu pasal atau beberapa pasal dalam aturan tersebut bertentangan atau tidak dengan UUD. Faktanya,
seperti yang saya sebutkan di atas, lebih dari 13 UU mencantumkan kriteria ini. Apakah kita akan melalui jalur konvensional satu per satu UU/peraturan
dihapus, atau ada lompatan lain yang memungkinkan judicial review dilakukan terhadap semua UU yang mencantumkan kriteria ini? 
 
2. Di dalam UUD terdapat kriteria "mampu jasmani dan rohani" yang sampai sekarang juga masih debatable, apakah yang disebut dengan mampu? Tidak ada penjelasan
detail mengenai batasan mampu ini dalam UU, sehingga akan tetap di-interpretasikan berdasarkan kepentingan yang ada. Dalam sebuah diskusi panel yang pernah
dilakukan di Surabaya tahun 2005 lalu, seorang pakar hukum dari Universitas Airlangga yang juga diminta menjadi salah satu ahli hukum berkaitan dengan
kasus penolakan Gus Dur menjadi calon presiden 2004 menyatakan bahwa "mampu" dalam UUD ini berbeda dengan "sehat". Mampu akan mengacu pada perspektif hukum,
sedangkan sehat mengacu pada perspektif medis. Nam un, apakah pemikiran ini dipahami oleh para pengambil keputusan? Pastinya tidak, karena penolakan-penolakan
dengan kriteria ini masih terjadi. 
 
Pasti akan banyak masukan dan tanggapan dari kawan-kawan menyikapi hal ini.  Kalau memang persoalan ini menjadi agenda bersama, saya mengajak kawan-kawan
untuk berkoalisi untuk melakukan perjuangan bersama. Saya juga belum tahu bagaimana format terbaik melakukan ini semua...namun kalau tidak dimulai, kapan
lagi? 
 
Kasus gugatan atas penolakan saya mendaftar CPNS tahun 2004 terhadap walikota Surabaya masih dalam tahap kasasi. Mudah-mudahan bisa segera diputuskan (saya
sudah meminta 2 kali percepatan kasus) sehingga bisa menjadi jurisprudensi untuk agenda bersama kita.  Saya juga pernah mendiskusikan rencana judicial
review ini dengan teman-teman di LBH Jakarta dan Surabaya, jadi, setidaknya kita sudah punya modal jaringan dengan mereka.  Jadi, tunggu apa lagi kawan-kawan?
 

 
Salam 
 
Wuri  
 
Ditulis oleh Wuri Handayani di milis mitra jaringan dan difabelindonesia
 
Dear all,
Kasus penolakan terhadap Wijaya jelas-jelas menodai wajah sistim pendidikan nasional Indonesia karena benar kata Mbak Rini, kasus itu adalah yang ketiga
secara beruntun dalam tahun ini. Jadi, secara matematis akan terjadi kasus diskriminatif terhadap mahasiswa tunanetra sedikitnya 30 kasus dalam 1 dasawarsa
jika kita tidak melakukan upaya advokatif segera. Karena itu saya mendukung penuh langkah cepat yang dilakukan oleh teman seperjuangan di Mitranetra. Menghadapi
kasus-kasus serupa, tidak ada alternatif lain, kita harus memperkuat barisan melawan arogansi akademik seperti yang terjadi pada beberapa kampus di Indonesia
dalam satu tahun ini. Kita tidak boleh membiarkan kondisi ini terus menghambat langkah teman senasib kita untuk mengembangkan potensi intelektualitasnya.
Dan jangan pula ada di antara kita berpura-pura untuk tidak tahu permasalahan yang dihadapi oleh teman senasib kita apapun alasannya.
Sukses,
Yen
Ditulis oleh Yehezkiel Paradani, seorang tunanetra yang sekarang tengah menempuh program master di US
 
Menanggapi protes keras dari berbagai pihak, akhirnya secara resmi, UIN Jakarta mengeluarkan surat permintaan maaf yang sekaligus mengundang kembali Wijaya untuk melakukan pendaftaran kembali di UIN pada program studi pilihannya. Berikut kutipan surat dari UIN tersebut:
 
DEPARTEMEN AGAMA
 
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
 
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
 
Jl. Ir. H. Juanda no. 95 Ciputat 15412 Indonesia Telp. : (62-21) 7401925 Fax (62-21) 7402982
 
 
Nomor : Un.01/R/PP 009./544/2008 Jakarta, 18 Juli 2008
 
Lamp : -
 
Hal : Kebijakan UIN Syarif Hidayatullah
 
Tentang Mahasiswa Tunanetra
 
Kepada Yth.
 
Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Netra
 
Di
 
Jakarta
 
Assalamualaikum Wr. Wb.
 
Membaca surat Saudara nomor: 113/YMN/VII/2008 tertanggal 14 Juli 2008, dengan ini kami sampaikan sebagai berikut :
 
1. Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami oleh Saudara Wijaya ketika mendaftar ulang masuk UIN Syarif Hidayatullah Jakarta beberapa waktu
lalu. Dengan ini kami mengundang kembali Saudara Wijaya untuk mendaftar ke UIN Jakarta sesuai dengan Prodi dan Fakultas yang dinyatakan lulus. Untuk selanjutnya
diharapkan untuk menemui Kepala Biro Akademik dan Kemahasiswaan UIN Jakarta.
 
2. Terima kasih pula kami sampaikan kepada semua pihak yang telah ikut memikirkan masalah pendidikan inklusif (inclusive education) di Indonesia. UIN sejak
dari dulu sudah memiliki komitmen untuk ikut memberikan pendidikan bagi semua. Hal itu terlihat dari beberapa mahasiswa tunanetra yang mendaftar dan diterima
di kampus UIN Jakarta.
 
Demikian surat ini kami sampaikan. Terima kasih atas kerjasama dan perhatiannya.
 
a.n. Rektor
 
Pembantu Rektor
 
Bidang Akademik
 
Dr. Janihari Makruf
Bentuk penolakan seperti yang dilakukan oleh UIN Jakarta ini bukanlah satu-satunya. Dalam tahun ini saja, telah tercatat ada dua kali penolakan. Yang pertama adalah di Unifersitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang telah secara nyata mencantumkan persyaratan yang membatasi difabel/penyandang cacat dalam penerimaan mahasiswa baru. Pada unifersitas tersebut, setiap penyandang cacat/difabel hanya dapat belajar pada jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB). Hal ini sudah berlangsung sejak lama. Sementara di Unifersitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, indikasi diskriminasi dapat dilihat dari persyaratan calon mahasiswa baru yang berbunyi " Tidak mempunyai cacat tubuh atau cacat lainnyayang dapat mengganggu kelancaran belajar dan tugas dalam program tertentu" . (Http://www.upi.edu/?C=Pendaftaran&S=SPMB
). Peraturan ini tentu dapat ditafsirkan secara berragam, dan justru karena itulah celah untuk mendiskriminasikan penyandang cacat/difabel semakin terbuka. Dan perlu diketahui bahwa secara struktural, bentuk diskriminasi bagi difabel tidak hanya kerap terjadi di lingkungan pendidikan saja, tapi juga di sektor-sektor formal lain seperti ketenaga kerjaan, akses kesehatan, asuransi dan lain-lain.
 
Bagi penulis, yang merupakan bagian dari orang-orang yang sering kali terdiskriminasi ini, tak ada pilihan lain kecuali membela. "Tak ada yang pantas teralienasi di dunia ini, karena tuhan telah menciptakan satu dunia untuk kita bersama".
 
Dimanakah anda? Akankah anda diam ketika anda mendengar bahwa orang disekitar anda, teman anda, atau bahkan saudara anda terrampas haknya? Jika demikian, lalu siapakah yang buta dan tuli?
 
Penulis adalah orang yang rindu akan inklusi dan anti diskriminasi
Read More..

Thursday, 26 June 2008

28 Years; What does it mean?

Time is running inevitably, and I have just realised that now, today (June 26 2008), I have just completed my age to be 28 years. It is to old to say that I am 28, isn't it! However, no thing I could say. Time can't be pulled back and from day to day my story, journey and lesson from my days becomes longer. And, it means that my remaining time becomes shorter because inevitably, agree or not, at the end of the day, He will call me back to His lap.

There is nothing I could proud of my live, nor I am able to be responsible to the Live He has given to me. If the day is coming, and I am asked "How did you use your live?" What answer I can say since I have done nothing meaningful? The only my prayer and request to Him is to give me more valuable live in which my presence can be more meaningful for my self and all beloved people around me. Thanks to my family (Chacha and Bunda) for your assistance, and all people around me that I can call you one by one for all your inspirations. My belief is that whoever you are, I will become nothing without you all.

Read More..